LOGISTIKNEWS.ID- Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Institute, berkomitmen untuk terus memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) logistik nasional melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP ALFI yang juga Ketua Pendidikan ALFI Institute, M. Akbar Djohan saat penyerahan Sertifikat FIATA Diploma In Freight Forwarding & Logistics (FIATA Standard- Geneva) yang diterbitkan oleh FIATA Logistics Institute- Geneva serta Sertifikat Basic Logistics & Freight Forwarding Course (UNESCAP Standard) kepada Peserta pelatihan yang dilaksanakan ALFI Institute yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, pada Rabu (10/12/2025).
Dalam sambutannya secara virtual, Akbar Djohan menyampaikan bahwa ALFI dan ALFI Institute terus berkomitmen dan konsisten membangun dan memperkuat tatanan ekosistem logistik yang berkelanjutan melalui pendidikan guna mengoptimalkan peran pelaku logistik tanah air.
Bahkan, melalui FIATA LOGISTIK INSTITUTE (FLI – Geneva- Switzerland) dan standard UNESCAP, menginisiasi membangun kesetaraan pendidikan bagi Pelaku Freight Forwarding dan Logistik serta rantai pasok bertaraf nasional, internasional dengan pengakuan Global.
“Sehingga peserta pelatihan memiliki nilai tambah melalui kesetaraan wawasan dan pendidikan sebagai pemain logistik bertaraf Asia Pasifik dan internasional,” ujar Akbar.
Dia menambahkan, ALFI Institute juga terus membangun transformasi melalui prinsip-prinsip transparansi, pragmatis bahkan progresif. ALFI Institute memegang peran penting saat ini, ditengah dinamika situasi global saat ini yang sedang tidak baik-baik saja.
“Dengan situasi uncertainty global supply chain, bahkan national supply chain dan lansekap global supply chain sangat dinamis perubahannya, salah satunya adalah situasi bencana termasuk di tanah air yang saat ini kita hadapi, termasuk upaya peran logistik bencana dalam pengiriman bantuan lantaran putusnya infrastruktur jalan darat, jembatan, tidak bisa dilayani airport,” paparnya.
Situasi dan kondisi seperti saat ini, imbuhnya, menjadi tantangan tersendiri sehingga kemampuan logistik ekosistem nasional, termasuk juga kemampuan SDM Logistik nasional, harus lebih inovatif dan menguasai kemajuan IT.
“Dalam penanganan bencana, sebagai sebagai ujung tombak yang dilakukan insan Logistik bencana, yakni bagaimana agar tidak terjadi penumpukan bantuan yang berdampak terhadap pengiriman ke tempat bencana. Tentu ini menjadi salah satu tantangan bagi insan Logistik nasional,” papar Akbar.
Miliki Inovasi
Pada kesempatan itu, Akbar juga berharap kepada semua peserta yang telah selesai mengikuti Pendidikan Vocational Training baik FIATA Diploma In Freight Forwarding & Logistics (FIATA- Geneva) maupun Basic Logistics & Freight Forwarding (UNESCAP Standard), juga memiliki sense of crisis, inisiatif, yang didasari oleh good willing, dengan quick response latar belakang mobilisasi, baik orang maupun barang.
“Sehingga, bisa memberikan integrasi solusi Logistik dalam kaitan pula prinsip-prinsip logistik yaitu perpindahan barang, orang, informasi, data dan dokumen, flow of money,” jelasnya.
Akbar mengatakan, kondisi perdagangan global saat ini adalah tanpa batas/ borderless, melalui perjanjian-perjanjian internasional, sudah tidak ada batas-batasan negara termasuk dokumen data, flow of money bahkan orang (people to people).
Photo: Peserta Diklat ALFI Institute
Karenanya, ujar Akbar diperlukan SDM yang memiliki kompetensi bertaraf global, yang bisa menempati posisi-posisi tenaga-tenaga ahli logistik Indonesia.
“Ini juga harus dicermati dengan adanya keterbukaan dari negara lain, bukan hanya termasuk komoditas barang importnya, akan tetapi juga akan terbuka manusianya dan saat ini terbuka bagi negara lain seperti USA, Eropa, South East Asia,” kata Akbar.
Dengan target-target meningkatkan kompetenai SDM Logistik inilah, ALFI melalui ALFI Institute menyelenggarakan pendidikan Freight Forwarding, Logistik dan Rantai pasok yang bertaraf global (FIATA dan Standard UNESCAP).
Menurut Akbar, substansi ini penting agar para Insan Logistik di tanah air sebagai Tenaga Ahli Logistik maupun rantai pasok bertaraf Nasional dan Internasional yang memilik daya saing global.
Akbar menyampaikan potensi ekonomi industri logistik mencapai US$ 300 milyar/tahun, namun yang bisa dinikmati pelaku logistik nasional tidak lebih dari 10%-nya.
Hal ini, kata Akbar, menjadi challenge dan opportunity bagi pemangku kepentingan logistik, supaya peserta pelatihan yang sudah lulus yang notabene sebagai duta di perusahaan dapat mengambil peluang tersebut dengan memperkuat networking globalnya.
Disisi lain,ujarnya, pertumbuhan ekonomi RI yang hanya 5,02 % saat ini namun masih diatas rata-rata pertumbuhan negara lain, memerlukan peran semua pihak untuk mendongkraknya, termasuk oleh sektor logistik sebagai urat nadi perekonomian nasional.
“Marilah kita bagun dan perkuat jaringan logistik dan rantai pasok dengan perkuatan SDM logistik yang profesional,” ujar Akbar.[am]













