LOGISTIKNEWS.ID- Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Priok menetapkan lima langkah mitigasi untuk mengantisipasi kepadatan arus logistik (barang maupun peti kemas) di kawasan pabean pelabuhan Tanjung Priok selama periode Angkutan Lebaran (Angleb) 2026/Idul Fitri 1447 H.
Kabid Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Tanjung Priok, Wim Hutajulu, mengungkapkan hal tersebut saat di temui Logistiknews.id, di kantornya pada Senin (2/3/2026).
Dia menegaskan untuk kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke pelabuhan Priok, maka posisi tingkat keterisian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) dan Gate Pass sebagai dasar Pelayanan Kapal pada Sistem Inaportnet.
“Kami sudah sosialisasikan hal ini kepada pengelola terminal di pelabuhan Tanjung Priok,” ujar Wim.
Adapun lima langkah mitigasi itu yakni; Pertama, Mengatur bahwa batasan Yard Occupancy Ratio (YOR) di terminal 65% bisa melakukan kegiatan, dan jika telah mencapai YOR 66% s/d 80% agar berkoordinasi dengan KSOP Tanjung Priok untuk pengaturan penyandaran kapal.
Kedua, terhadap terminal yang mencapai YOR 81% keatas, tidak dapat melakukan kegiatan dan penghentian penerbitan gate pass.
Ketiga, Melakukan pengaturan Pengeluaran Gate Pass Sesuai dengan standar yang telah di tetapkan.
Keempat, Apabila YOR tinggi, maka kapal dapat shifting sandar ke dermaga/terminal lain yang berth occupancy ratio (BOR) dan YOR nya masih memadai agar kapal tidak menunggu terlalu lama.
Kelima, menjaga keseimbangan jumlah kegiatan bongkar muat kapal.

Sebelumnya, Kepala KSOP Tanjung Priok Heru Susanto, menegaskan agar seluruh pengelola terminal di wilayah pabean Pelabuhan Tanjung Priok dapat melakukan mitigasi guna mengantisipasi potensi kepadatan arus barang dan logistik pada periode Angkutan Lebaran (Angleb) 2026 atau Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Update YOR
Berdasarkan data yang dihimpun Logistiknews.id, pada Senin pagi (2/3/2026) rata-rata tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) di sejumlah terminal Pelabuhan Tanjung Priok masih terkendali yakni dikisaran 18% hingga 65%.
Adapun rerata YOR di Jakarta International Container Terminal (JICT) tercatat 56%, Terminal Peti Kemas (TPK) Koja 47%, IPC TPK Internasional (OJA) 47%, dan IPC TPK Internasional (TSJ) 47%.
Kemudian, IPC TPK Domestik (MSA) 64%, IPC TPK Domestik (Temas) 64%, IPC TPK Domestik (009) 52%, IPC TPK Domestik (Adipurusa) 45%, IPC TPK Domestik (DHU) 49%, New Priok Container Terminal One (NPCT-1) 65%, Mustika Alam Lestari (TMAL) 18%, PT Pelabuhan Tanjung Priok (Multipurpose) 28%, dan Prima Nur Panurjwan (PNP) 57%.
Adapun jumlah kontainer yang melebihi batas waktu penumpukan atau longstay di kawasan pabean pelabuhan Tanjung Priok, per Senin pagi, 2 Maret 2026 sebanyak 7.007 bok.
Kontainer longstay itu berasal dari kontainer yang menimbun lebih dari 30 hari sebanyak 530 bok dan yang menumpuk lebih dari 3 hari sebanyak 6.477 bok.
Parameter R/D
Sedangkan parameter harian kegiatan penerimaan dan pengeluaran kontainer receiving dan dellivery (R/D) di Jakarta International Container Terminal (JICT) adalah sebanyak 4.500 bok/hari.
Terminal Petikemas (TPK) Koja 2.000 bok, IPC TPK Internasional (OJA) dan IPC TPK Internasional (TSJ) 1.500 bok.
Adapun parameter R/D harian di IPC TPK Domestik (MSA) dan IPC TPK Domestik (Temas) 2.000 bok, IPC TPK Domestik (009) sebanyak 800 bok, IPC TPK Domestik (Adipurusa) 1.500 bok, dan IPC TPK Domestik (DHU) 1.500 bok.
Selain itu, parameter R/D harian di New Priok Container Terminal-One (NPCT-1) sebanyak 2.800 bok, Terminal Mustika Alam Lestari (TMAL/NPH) 1.200 bok, PT Pelabuhan Tanjung Priok/PTP Multipurpose 350 bok dan Prima Nur Panurjwan (PNP) 750 bok.
Kemudian, Terminal Khusus Mobil atau Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) parameter harian R/D-nya sebanyak 1.500 unit.[am]













