Priok Mulai Terurai, Layanan R/D di JICT & Koja Normal Lagi

  • Share
Kondisi Joint In Gate JICT dan TPK Koja, pada Kamis Pagi (22/1/2026)

LOGISTIKNEWS.ID– Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Priok, Heru Susanto menegaskan kegiatan pemasukan dan pengeluaran barang atau receiving dan delivery (R/D) melalui Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Terminal Peti Kemas (TPK) Koja di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, sudah normal kembali.

“Sejak siang menjelang sore ini, Alhamdulilah sudah lancar,” ujar Heru melalui pesan singkat kepada Logistiknews.id, pada Kamis Sore (22/1/2026). Sebelumnya, sejak Rabu malam (21/1) hingga Kamis pagi (22/1) layanan R/D petikemas sempat mengalami hambatan lantaran adanya kendala sistem informasi dan teknologi (IT) akibat terputusnya aliran listrik di kedua terminal peti kemas tersebut.

Saat dihubungi Logistiknews.id, Kamis Sore (22/1/2026), Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputera juga mengatakan berkat kesigapan semua pihak, saat ini layanan di pelabuhan tersibuk di Indobesia itu normal dan lancar.

Padahal, jika mengacu pada tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) per Kamis 22 Januari 2026 pukul 08.00 Wib, di JICT maupun TPK Koja masih relatif aman atau dibawah 65%, yakni di JICT 59% dan TPK Koja 49%.

Namun, akibat hambatan R/D pada kedua terminal peti kemas itu, kini layanan ekspor dan impor terhambat bahkan krodit.

Informasi yang diperoleh Logistiknews.id dari sumber di JICT dan TPK Koja pada Kamis pagi (22/1/2026), sebelumnya menyebutkan kendala sistem itu ditenggarai putusnya kabel induk listrik atau rusak akibat tergaruk alat exavator saat  pengerjaan konstruksi perbaikan jembatan timbang di fasilitas joint in gate JICT dan TPK Koja pada Rabu sore (21/1/2026).

Akibat insiden itu, sistem layanan berbasis IT pada kegiatan R/D terganggu dan menyebabkan truk pengangkut petikemas lebih lama menunggu untuk dilayanai bahkan mengakibatkan antrean panjang dan juga kemacetan hingga keluar pelabuhan Priok.

Bahkan Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jakarta, Adil Karim, sempat geram dan mengatakan pihak manajemen JICT dan TPK Koja harus bertanggung jawab segera mencari solusi untuk mengurai kemacetan yang terjadi sejak Rabu Malam di kedua terminal petikemas tersebut.

“Jangan sampai berakibat vatal, macet sampai di luar pelabuhan yang bisa menghambat aktivitas logistik dan perekonomian nasional,” ujar Adil kepada Logistiknews.id, pada Kamis pagi (22/1/2026).

Hal senada disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta, Dharmawan Witanto. Bahkan, dia mengaku truk saat ini sudah mengalami kemacetan hingga keluar area pelabuhan. Sedangkan kondisi didalam pelabuhan sudah penuh sesak.

“Banyak TILA atau SP2 (Surat Perintah Pengeluaran Barang) yang kedaluarsa, ini solusinya bagaimana,” tanya Akong panggilan akrab Dharmawan, kepada Logistiknews.id pada Kamis pagi (22/1/2026).

Berdasarkan data yang dihimpun Logistiknews.id, rata-rata tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) per Kamis 22 Januari 2026 pukul 08.00 Wib mencapai 29% s/d 59%

Rinciannya, rerata YOR di JICT tercatat 59%, Terminal Peti Kemas (TPK) Koja 49% bok, IPC TPK Internasional (OJA) 41%, dan IPC TPK Internasional (TSJ) 41%, IPC TPK Domestik (MSA) 55%, IPC TPK Domestik (Temas) 53%, IPC TPK Domestik (009) 40%, IPC TPK Domestik (Adipurusa) 58%, IPC TPK Domestik (DHU) 445%.

Kemudian, New Priok Container Terminal One (NPCT-1) 46%, Terminal Mustika Alam Lestari (TMAL) 29%, Indonesia Kendaraan Terminal (KT) 33%, dan Prima Nur Panurjwan (PNP) 54%.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *