IPCC Tak Alergi X-Ray, Perlu Bahas Dulu Dengan Asosiasi Terkait

  • Share
Dirut IPCC, Sugeng Mulyadi

LOGISTIKNEWS.ID- Pencegahan masuknya barang ilegal seperti senjata api maupun narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba) melalui pelabuhan laut, kini telah  menjadi perhatian serius pemerintah.

Di pelabuhan Tanjung Priok, misalnya, pencegahan dan deteksi dini terhadap hal itu telah diimplementasikan pemanfaatan alat pemindai atau X-Ray.

Selain bisa mencegah praktik importasi nakal yang berusaha memasukkan barang ke wilayah pabean Indonesia dengan berbagai modus, pemanfaatan X-Ray sebagai upaya sistematis dalam mendukung kelancaran arus logistik sekaligus melindungi industri dalam negeri dari serbuan masuknya barang ilegal atau penyelundupan.

Namun saat ini, pemanfaatan alat pemindai atau X-Ray, baru hanya diterapkan pada fasilitas terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, antara lain; Jakarta International Conatiner Terminal (JICT), TPK Koja, New Priok Container Terminal One (NPCT-1), dan akan segera menyusul di Terminal 3 Priok-IPC TPK.

Jika melihat faedah X-Ray itu, Terminal Khusus Mobil atau Car Terminal di pelabuhan Tanjung Priok yang dikelola PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) / IPCC, dinilai perlu memanfaatkan alat deteksi itu guna menghindari potensi masuknya barang ilegal, senjata api, maupun narkoba ke dalam negeri melalui pengiriman alat berat, sparepart maupun kendaraan niaga atau completely built up/CBU.

“Kami (IPCC) siap kalau ada ketentuan (regulasinya). Namun sebaiknya dibahas dengan para asosiasi pelaku usaha terlebih dahulu. Karena yang ada saat ini justru lebih komprehensif dan detail, bahkan untuk kargo tujuan Australia kita harus pemeriksaan bio security system,” ujar Direktur Utama IPCC, Sugeng Mulyadi, kepada Logistiknews, pada Sabtu (29/3/2025).

Oleh karena itu, imbuhnya, IPCC akan selalu menyesuaikan ketentuan/kebutuhan dari Automaker dan regulasi dari Pemerintah terkait hal tersebut, sebab saat ini ketentuan yang mewajibkan pemasasang X-Ray selain petikems, yakni di kargo roll on-roll off (ro-ro) Penumpang.

Sugeng mengungkapkan, saat ini untuk kegiatan ekspor melalui terminal IPCC sudah menerapkan Central Inspection Facilitilies (CIF) untuk memastikan kualitas per unit mobil tidak ada defect dan pemeriksaan hal-hal terkait standard automaker.

“Bahkan di terminal sendiri kita ada scan barcode per mobil sebanyak dua kali handover dengan pemeriksaan detail,” ucap Dirut IPCC.

Sebagai informasi, pemberlakuan alat pemindai atau X-Ray di pelabuhan, untuk menghalau segala bentuk penyelundupan barang ekspor dan impor yag juga telah diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 109/PMK.04/2020 tentang Kawasan Pabean dan Tempat Penimbunan Sementara (TPS).

Multiplier efek dengan adanya alat pemindai itu,  selain bisa memfilter arus barang dari dan ke pelabuhan laut juga menekan  praktik penyelundupan yang berpotensi merugikan pemasukan negara.

Selain menjaga kedaulatan negara dari masuknya barang ilegal, penggunaan alat pemindai itu dapat memberikan dampak positif pada seluruh rantai logistik dan mendukung efisiensi pelayanan di pelabuhan

Kinerja Operasional

Berdasarkan keterangan resmi PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX:IPCC), bahwa kinerja operasional perseroan mengalami peningkatan.

Sepanjang Februari 2025 saja, IPCC behasil melakukan bongkar muat cargo (CBU, bus/truk, alat berat, general cargo dan motor) yang ditangani hingga 127.045 unit, dimana meningkat 15.271 unit atau 13,6% dari torehan bulan Januari 2025.

Aktivitas di IKT/IPCC

Selain kinerja cargo, jumlah kunjungan kapal yang berkunjung ke dermaga-dermaga yang dikelola IPCC termasuk dengan tambahan terminal satelit Banjarmasin meningkat 17,7% atau 79 kunjungan lebih banyak secara YoY atau secara total 526 Call hingga bulan Februari 2025.

Pencapaian itu dipengaruhi meningkatnya jumlah impor kendaraan utamanya pada CBU berbasis BEV (Battery Electric Vehicle) sejumlah 6.778 unit dengan dominasi pabrikan asia (BYD, Vinfast, AION dan berbagai brand lainnya) dan peningkatan jumlah ekspor sejumlah brand otomotif yang memiliki basis lini produksi di Indonesia.

Adapun penanganan cargo jenis truk/bus secara konsolidasi sampai dengan Februari 2025 sebesar 17.620 unit tumbuh 16,3% YoY.

Pertumbuhan pada jenis cargo truk/bus didominasi oleh bus listrik yang didatangkan dari China sesuai dengan rencana peremajaan bus Transjakarta untuk menambah 200 armada baru di tahun 2025 serta truk-truk berkapasitas besar untuk sektor pertambangan didalam negeri.

Kinerja positif berhasil dicatatkan perseroan terhadap penanganan cargo CBU sampai dengan bulan Februari 2025 sebesar 133.585 unit meningkat 11.795 unit atau 9,6% secara YoY.

Peningkatan tersebut didominasi oleh ekspor kendaraan yang diproduksi dalam negeri untuk memenuhi permintaan pasar internasional dengan jumlah ekspor hingga bulan Februari sejumlah 49.954 unit atau 4,19% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *