Digitalisasi, Bikin Cost Logistik Hemat Hingga Rp 100 Triliun Pertahun

  • Share
saat konfrensi pers berkaitan dengan pelaksanaan Pameran dan Konferensi Logistic Southeast Asia dan Air Cargo Southeast Asia (tlacSEA), di Menara Kamar dagang dan Industri Indonesia (KADIN), di Jakarta pada Jumat (15/8/2025).

LOGISTIKNEWS.ID- Transformasi dan digitalisasi logistik diproyeksi bisa menyumbang penghematan cost logistik nasional mencapai Rp80 Triliun hingga Rp100 Triliun pertahun. Selain itu, digitalisasi juga menjadi kunci untuk mengatasi hambatan logistik di Indonesia.

Disamping menjadi urat nadi pertumbuhan ekonomi, aktivitas logistik yang efisien juga akan mengakselerasi pada pertumbuhan usaha sektor itu yang pada akhirnya memperkuat ekosistem-nya.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), M. Akbar Djohan, saat konfrensi pers berkaitan dengan pelaksanaan Pameran dan Konferensi Logistic Southeast Asia dan Air Cargo Southeast Asia (tlacSEA), di Menara Kamar dagang dan Industri Indonesia (KADIN), di Jakarta pada Jumat (15/8/2025).

Akbar menegaskan bahwa digitalisasi adalah kunci untuk mengatasi hambatan logistik di Indonesia. “Efisiensi logistik adalah kunci untuk menurunkan biayadistribusi nasional. Melalui kolaborasi dan teknologi, kita dapat memperkuat ekosistem logistik terintegrasi, mendukung UMKM, dan membuka peluang pasar yang lebih luas,”ujar Akbar.

Menurutnya, saat ini Indonesia telah menjadi sebagai pusat pertumbuhan logistik regional, yang didorong oleh peningkatan infrastruktur, modernisasi pelabuhan, dan percepatan digitalisasi rantai pasok. Momentum ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam membentu ktransformasi logistik Asia Tenggara

“Namun disisi lain, kita masih memiliki tantangannya, yakni bagaimana memperkuat harmonisasi regulasi yang lebih mumpuni sehingga dapat lebih menyentuh kepastian berusaha,” ucap Akbar.

Ketua Umum ALFI menegaskan, kendati fenomena geopolitik global saat ini juga tidak bisa dihindari, namun peran pelaku usaha nasional dalam berkiprah di sektor logistik global masih bisa dilakukan lantaran pasar logistik sangat besar.

Karenanya, sebagai asosiasi pelaku usaha, ALFI  akan mengambil peran strategis dalam kaitan itu dengan terus mendorong flatform logistik yang terintegrasi dengan National Logistik Eksosistem (NLE), memberdayakan ALFI Institute, dan mengoptimalkan smart dan green logistics hub yang berbasis IoT maupun artificial intelegence (AI).

Pelaksana Tugas (Plt) Asistant Deputi Bidang Logistik Kemenko Perekonoman Ismariny, mengatakan transformasi logistik menjadi kunci keberhasilan pembangunan ekonomi nasional.

“Saya akan laporkan dan kasih masukan apa yang disampaikan ALFI mengenai digitalisasi dan penghematan cost logistik nasional mencapai Rp.80 Triliun hingga Rp.100 Triliun pertahun itu ke pak Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto) karena beliau sangat senang dengan yang berkaitan dengan angka (data),” ujarnya.

Dia juga menegaskan, komitmen Pemerintah saat ini dalam memperkuat konektivitas dan big data, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Peran Penting

CEO & Managing Director, MMI Asia Pte Ltd, Michael Wilton mengatakan Indonesia memainkan peran penting dalam transformasi logistik Asia Tenggara, mulai dari pengembangan infrastruktur hingga digitalisasi rantai pasok.

“Melalui tlacSEA Connect Indonesia dan acara utama di Singapura, kami bertujuan menyelaraskan prioritas nasional dengan strategi regional dan mendukung solusi praktis untuk pertumbuhan jangka panjang,” ujar Michael.

Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Transformasi Teknologi,UMKM, dan Digitalisasi, Teguh Anantawikrama, menekankan bahwa partisipasi Indonesia di tlacSEA 2025 lebih dari sekadar pameran, ini adalah platform strategis untuk menampilkan kekuatan ekosistem logistik nasional.

“KADIN mendorong pelaku usaha tidak hanya hadir, tetapijuga aktif berkontribusi dalam dialog global tentang digitalisasi dan efisiensi logistik. Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia siap bersaing dan berkolaborasi secara regional,” jelas Teguh.

Forum Diskusi

Pada kesempatan itu juga dilaksanakan forum diskusi yang menampilkan pembicara terkemuka lainnya termasuk Mahendra Rianto (Ketua Umum ALI),  Liana Trisnawati (Ketua Umum ABUPI) Utami Prasetiawati (Ketua Umum PPLBI) dan Iman Sedayu Pusponegoro (Ketua Umum ALDEI).

Adapun Logistic Southeast Asia dan Air Cargo Southeast Asia (tlacSEA) akan menghadirkan lebih dari 10.000 profesional logistik, lebih dari 300 peserta pameran, dan 90+ pembicara ahli pada 29–31 Oktober 2025 di Sands Expo & Convention Centre, Singapura.

Acara ini akan menyoroti inovasi rantai pasok, konektivitas lintas batas, dan logistik berkelanjutandi seluruh kawasan.

Dengan meningkatnya perdagangan intra-ASEAN, melonjaknya aktivitas e-commerce, dan dorongan menuju dekarbonisasi, sistem logistik di Asia Tenggara mengalami transformasi yang pesat.

Adapun tlacSEA 2025 menjadi platform tepat waktu bagi pemerintah, penyedia solusi, freight forwarder, dan pengirim barang untuk menjajaki peluang dalam integrasi digital, pengembangan infrastruktur, dan penyelarasan regional.

Sebagai negara kepulauan dengan geografi yang kompleks, Indonesia mengandalkan digitalisasi dan teknologi untuk membangun ekosistem logistik yang efisien, terintegrasi,dan berdaya saing global.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dengan cepat memodernisasi sektor logistiknya untuk mendukung basis industri yang berkembang, yang diperkirakanakan menyumbang lebih dari 21% PDB nasional pada 2030.

Proyek infrastruktur strategis termasuk Jalan Tol Trans-Sumatra, peningkatan pelabuhan, dan perluasan pusat logistik di luar Pulau Jawa, juga membuka koridor perdagangan baru di seluruh negeri.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *