LOGISTIKNEWS.ID- Depalindo menyambut baik rencana pengimplementasian Terminal Booking System (TBS) di semua fasilitas terminal peti kemas kawasan pabean pelabuhan Tanjung Priok. Namun, ada persyaratan mutlak dalam hal itu, yakni perlu fasilitas buffer area yang cukup agar truk bisa standby sebelum masuk terminal pelabuhan sesuai dengan urutan TBS.
Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo), Toto Dirgantoro mengatakan, perlu diwaspadai beberapa hal dalam penerapan TBS itu. Selain persoalan kemacetan (traficc jump) yang kerap terjadi di jalur distribusi maupun depo empty di luar pelabuhan, ketersediaan buffer area truk juga hal krusial yang mesti mendapat perhatian serius dari manajemen Pelindo Tanjung Priok.
“Sebab, tanpa buffer area trucking, penerapan TBS itu sulit dilakukan,” ujar Toto Dirgantoro, kepada Logistiknews.id, pada Senin (18/8/2025).
Dia menegaskan, buffer area yang letaknya mumpuni dan cukup luasan arealnya menjadi prasyarat utama dalam implementasi TBS di kawasan pelabuhan tersibuk di Indonesia.
“Meskipun sistemnya (TBS) sudah bagus kalau tidak disertai buffer area truk-nya, itu agak riskan, berpotensi menimbulkan antrean truk masuk pelabuhan,” papar Toto.

Sebagaimana diketahui, saat ini terdapat lima fasilitas terminal petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok, yakni Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, New Priok Container Terminal One (NPCT-1), Termin IPC TPK, dan Terminal Mustika Alam Lestari (MAL/NPH).
Menurut Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) DKI Jakarta, Irwandy MA Rajabasa, dalam beberapa sosialiasi yang diikuti GPEI, bahwa TBS digadang-gadang sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi kemacetan fatal yang berdampak di area pelabuhan maupun di jalan raya dan juga terhadap bongkar muat di kapal.
“Berdasarkan pengalaman kemacetan dan penumpukan di area pelabuhan ada simpul-simpul kemacetan diluar area pelabuhan yang tidak bisa di prediksi sebelumnya dan di luar kewenangan pihak pelabuhan untuk bisa mengaturnya karena trucking datang maupun keluar juga mengalami kemacetan akan mengganggu keseimbangan fasilitas penumpukan di area pelabuhan,” ujar Irwandy kepada Logistiknews.id, pada Senin (18/8/2025).

Irwandy menegaskan, karenanya untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan area penyangga parkir truk (APPT) diluar pelabuhan yang jarak tempuhnya bisa di prediksi bagi truk yang sudah berproses dengan TBS.
“Sebelum masuk Pelabuhan, Truk diharuskan menunggu di area APPT tersebut guna menjamin sinkronisasi TBS bisa berjalan lancar,” ucap Irwandy.
Go Live
Bertepatan dengan HUT RI ke 80, pada 17 Agustus 2025, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok melakukan go-live atau implementasikan TBS di pelabuhan Tanjung Priok secara hybrid (online dan offline).
Dalam sambutannya, Kepala KSOP Utama Tanjung Priok menyampaikan, momentum go live yang dilaksanakan tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 juga menjadi simbol bahwa kemandirian dan kemajuan bangsa harus didukung dengan inovasi, kerja keras serta sinergi seluruh pihak.
“Saya apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan mewujudkan implementasi sistem ini,” ujar KSOP Tanjung Priok, Capt Heru Susanto.
Dalam kesempatan itu, Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra menyampaikan setelah go live ini dilaksanakan, pihaknya akan melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya.
Yandri mengatakan, TBS hadir sebagai salah satu upaya pengendalian trafik truk di area pelabuhan sehingga dapat terjadi keseimbangan jumlah truk yang datang, lantaran para pengguna jasa dapat memilih slot waktu kedatangan truk sesuai kapasitas layanan terminal.
Tak Ada Pinalti
Ketua pokja TBS, Heru Satrio menyampaikan bahwa TBS akan mulai diberlakukan secara bertahap, di mana prinsip utamanya truck booking sebelum ke pelabuhan dan Tidak ada pinalti pelarangan bila truk datang lebih cepat atau lebih awal.

Fase 1 ini akan dilakukan edukasi agar terbiasa untuk melakukan booking di sistem, jika sudah 60 persen maka akan diimplementasikan fase 2. fase 2, dimana akan menggunakan portal aplikasi bersama untuk terminal booking system.
Untuk fase 1 akan dilakukan evaluasi dalam pelaksanaanya, dan telah disiapkan dashboard yang dapat menunjukan persentase kedatangan truk ke Pelabuhan dengan kategori : early, ontime, late. ujar Heru satrio yang juga menjabat sebagai grup head IT Pelindo.
“Target utama TBS tahap 1 ini yaitu mengedukasi pengguna jasa petikemas di pelabuhan priok untuk melakukan booking sebelum truck menuju pelabuhan, mendapatkan data behaviour pengguna jasa truck peti kemas sehingga dapat menjadi evaluasi dan peningkatan pada sistem TBS tahap berikutnya,” ujarnya.
Implementasi sistem TBS ini juga diharapkan akan berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas, operasional pelabuhan yang efisien dan pengurangan emisi kendaraan di area pelabuhan.
Harapan Pengusaha Truk
Sebelumnya, Pengusaha Truk di Tanjung Priok mengusulkan agar agar perusahaan Truk dapat melakukan booking langsung khusus layanan pengangkutan impor menyusul telah diterapkannya uji coba (fase 1) Terminal Booking System (TBS) pada terminal peti kemas di kawasan pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Ketua Caretaker DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Dharmawan Witanto mengatakan, pada prinsipnya perusahaan anggota Aptrindo DKI Jakarta yang berkegiatan di pelabuhan Tanjung Priok mendukung implementasi TBS pada terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok.
“Sekarang kan yang booking untuk slot TBS -nya adalah pemilik barang/cargo owners. Pihak Angkutan (trucking) cuma terima surat perintah pengeluaran barang atau SP2-nya sesuai yang sudah di submit cargo owners. Disisi lain pada prinsipnya cargo owners ingin cepat barang-nya keluar. Nah, makanya khusus impor kami sarankan agar trucking seharusnya bisa booking kuota langsung (akses) ke TBS impor,” ujarnya kepada Logistiknews.id.

Dharmawan atau yang akrab disapa Akong itu mengusulkan hal tersebut lantaran adanya masukan dari perusahaan anggotanya terkait implementasi TBS di Pelabuhan Priok.
“Prinsipnya kami mendukung TBS demi kelancaran arus barang, tetapi juga menjamin ketersedian angkutannya untuk ekspor impor sesuai jadwal dalam kuota TBS,” ucap Akong.[am]













