Prof Wihana: Likuiditas Sektor Logistik Tertekan Selama Pandemi, Namun Lebih Cepat Pulih

  • Share

JAKARTA – Kementerian Perhubungan mengungkapkan, likuiditas jangka pendek sektor logistik akan mengalami tekanan yang cukup tinggi selama Pandemi Covid-19, akan tetapi kondisi ini diprediksi akan lebih cepat pulih setelah krisis berakhir.

“Pasalnya Pandemi Covid-19 membuat mobilitas dan aktivitas ekonomi terhambat yang berdampak terhadap penurunan konsumsi masyarakat dan diikuti dengan penurunan volume produksi dan distribusi barang,” ujar Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Ekonomi dan Investasi, Prof Wihana Kirana Jaya.

Dia menyampaikan hal tersebut dalam makalahnya pada Diskusi Nasional bertema ‘Kenapa Biaya Logistik Nasional Lebih Mahal ?’, yang digelar Media Ocean Week dan Kementerian Perhubungan di Museum Maritim Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Rabu (4/8/2021).

Diskusi Nasional yang dibuka secara virtual oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi itu, juga menampilkan nara sumber lain yakni Carmelita Hartoto,Ketua Umum DPP Indonesia National Shippowners Association (INSA), Trisnawan mewakili Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Risdhianto Budi Irawan, Direktur PT Komatshu yang juga Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas (APJP), dan Prof. Wihana Kirana Jaya, Staf Khusus Menhub.

Selain itu, Nofrisel dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Capt. Subandi, Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Asmari Heri, Direktur Samudera Shipping, serta dipandu oleh moderator Pengamat Kepelabuhanan Pasoroan Herman Harianja.

Prof Wihana mengungkapkan dampak Pandemi Covid-19 terhadap sektor usaha logistik dapat diklasifikasikan pada empat kondisi yakni sangat berat, berat, sedang dan ringan.

Untuk kegiatan logistik yang terdampak sangat berat akibat Pandemi mencakup;  kegiatan Jasa Forwarder Udara dan Angkutan Truk Trailer (besar). Sedangkan yang mengalami dampak berat seperti; Jasa Forwarder Laut, Custom Clearance, Pergudangan Bahan Baku Industri, Pergudangan Barang Produk Jadi dan Ekspor, serta Angkutan Wingbox Tronton (besar).

Adapun yang terdampak Sedang antara lain; Pergudangan Barang Konsumsi (FMGC), Pergudangan Distribusi Besar, dan Angkutan Truk Wingbox Engkel.

Sedangkan kegiatan logistik yang berkaitan dengan pergudangan distribusi (fullfilment), angkutan truk bok retail dan angkutan kurir mobil van (kecil) termasuk yang kegiatan logistik yang berdampak ringan.

Pada kesempatan Diskusi itu, semua pelaku usaha dan stakeholders menyampaikan keinginan supaya cost logistik nasional murah, efisien dan efektif dapat diwujudkan agar Indonesia dapat berdaya saing global.

Disisi lain, semua stakeholders yang terlibat pada kegiatan logistik harus saling mendukung menyukseskan layanan dan biaya logistik nasional yang lebih efisien dan efektif.(am)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.