Terminal Booking System, Ditengah Dominasi Truk Tua & Rendahnya Produktivitas Angkutan

  • Share
Truk Pengangkut Barang dan Peti Kemas, Melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, pada Rabu (15/5/2024).-Photo: Logistiknews.id

Oleh: Akhmad Mabrori

ADA fakta menarik dalam rangkaian kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) ke III DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta, yang digelar Selasa (9/9/2025), yakni armada angkutan barang dan logistik yang beroperasi saat ini, termasuk di pelabuhan-pelabuhan Indonesia tergolong berusia tua atau rata-rata lebih 15 tahun, bahkan ada yang telah lebih 20 tahun.

Disisi lain, pengusaha truk menilai bahwa kinerja layanan truk dari sejak masuk hingga keluar pelabuhan juga dinilai masih rendah sehingga produktivitas (ritase) angkutan barang dan logistik anjlok. Meskipun idealnya kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke pelabuhan menjadi tanggung jawab bersama seluruh entitas bisnis yang terlibat didalamnya.

Padahal transportasi barang di era globalisasi menuntut efisiensi, keandalan, dan keberlanjutan serta ramah lingkungan.

Modernisasi angkutan barang, juga bukan hanya tentang adopsi teknologi mutakhir, tetapi juga menyangkut perubahan paradigma dalam mengelola sistem transportasi secara holistik serta memahami dinamika Industri dan inovasi dalam sektor angkutan barang.

Berdasarkan Data Korlantas Polri, per November 2024, terdapat 6.402.115 unit Truk dengan rincian berusia lebih dari 15 tahun sebanyak 2.598.510 unit atau sekitar 41%, dan  berusia diatas 10 tahun 1.547.347 unit (24%).

Sedangkan Truk yang berusia kurang dari 10 tahun mencapai 937.548 unit (15%) dan yang kurang dari 5 tahun sebanyak 1.318.710 atau 21%.

Adapun data Truk yang beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok (per Tanggal 8 Sept 2025) mencapai 36.177 unit dengan rincian yang berusia lebih 20 tahun mencapai 5.420 unit (15%), diatas 10 tahun dan kurang dari 20 tahun sebanyak 14.545 unit (40%).

Sedangkan Truk berusia diatas 5 tahun dan kurang dari 10 tahun sebanyak 11.116 unit atau 31%, dan yang kurang dari 5 tahun sebanyak 5.096 atau sekitar 14%.

Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Pemgusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan, berdasarkan data itu, artinya hanya 5% yang memenuhi persyaratan emisi gas buang.

“Sehingga untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta diperlukan langkah kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong peremajaan truk dengan truk yang lebih ramah lingkungan kearah truk listrik atau tehnology hybrid produksi dalam negeri,” ujar Gemilang Tarigan saat memberakan sambutan pada acara Musyawarah Daerah (Musda) ke III DPD Aptrindo DKI Jakarta, yang digelar Selasa (9/9/2025).

Dia menegaskan, langkah ini sekaligus bisa mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil dan dapat mengikuti kecepacatan minimum di jalan tol serta meningkatkan kelaikan kualitas truk.

Ketum DPP Aptrindo itu mengatakan, namun produktifitas truk di Pelabuhan saat ini sangat rendah yakni rata rata dibawah 20 Ritase sebulan, sehingga standard waktu layanan perlu diterapkan di Pelabuhan, Depo dan di pabrik maupun dipergudangan bongkar muat yang dimonitor teknologi digital.

Edukasi Terminal Booking System

Pada kesempatan itu, Dirut PT Terminal Teluk Lamomg (TTL) David P Sirait yang mewakili manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menegaskan, untuk mendukung kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke pelabuhan saat ini telah di implementasikan terminal booking system atau TBS.

Bahkan di Pelabuhan Tanjung Priok, TBS juga diharapkan dapat mengendalikan kinerja layanan jasa kepelabuhanan pada Terminal Petikemas dalam rangka mengantisipasi potensi kemacetan.

Setidaknya, ada sejumlah manfaat TBS antara lain; fungsi integrated traffic management dan safety control dan proses perencanaan traffic dan capacity management yang berbasis data (analiysis dan forecasting) memastikan forcast traffic tidak melebihi handling capacity terminal dan kawasan.

Kemudian, menjaga performance mitigasi dan control potensi kemacetan di setiap terminal secara realtime. Serta, early warning dan memberikan rekomendasi untuk kelancaran traffic seaside dan lanside, maupun reporting dan dashboarding untuk stakeholders.

David P Sirait saat memaparkan Implementasi TBS (Photo:Logistiknews.id/Akhmad Mabrori)

Berdasarkan data yang dihimpun Logistiknews.id, bahwa parameter harian R/D di Jakarta International Container Terminal (JICT) adalah sebanyak 4.500 bok/hari, Terminal Petikemas (TPK) Koja 2.000, IPC TPK Internasional (OJA) dan IPC TPK Internasional (TSJ) 1.500 bok.

Adapun parameter R/D harian di IPC TPK Domestik (MSA) dan IPC TPK Domestik (Temas) 2.000 bok, IPC TPK Domestik (009) sebanyak 800 bok, IPC TPK Domestik (Adipurusa) 1.500 bok, dan IPC TPK Domestik (DHU) 1.500 bok.

Selain itu, parameter R/D harian di New Priok Container Terminal-One (NPCT-1) sebanyak 2.800 bok, Terminal Mustika Alam Lestari (MAL/NPH) 1.200 bok, PT Pelabuhan Tanjung Priok/PTP Multipurpose 350 bok dan Prima Nur Panurjwan (PNP) 750 bok.

Sedangkan di Terminal Khusus Mobil atau Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) parameter harian R/D-nya sebanyak 1.500 unit.

Berbagai upaya untuk memperlancar arus barang dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia itu, masih terus dilakukan.

Bahkan sebelumnya, telah disepakati ambang batas yard occupancy ratio (YOR) maupun parameter receiving dan delivery (R/D) petikemas agar tidak lagi terjadi kemacetan ‘horor’ seperti beberapa waktu lalu.

Namun truk berusia tua yang hampir 95%-nya tak memenuhi standar emisi gas buang, sebagaimana diungkapkan oleh Aptrindo itu perlu solusinya.[*]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *