Kolaborasi, Menuju Total Integrated Logistics

  • Share
Aktivitas di TPK Panjang Lampung, pada Jumat (26/8/2022) - photo: Logistiknews.id

LOGISTIKNEWS.ID – Perkembangan bisnis logistik dan rantai pasok, kini semakin dinamis dan pesat. Bahkan layanan pengiriman barang yang terkoneksi dan terintegrasi dalam hubungan dari setiap entitas rantai pasok (supply chain) dan jaringannya, kini berkembang sebagai total integrated logistics.

Perkembangan signifikan itu seperti pemanfaatan sistem teknologi, prasarana ataupun sarana transpostasi dan telematika yang diintegrasikan dalam berbagai bentuk perangkat maupun sistem layanan berbasis teknologi tracking & tracing, informasi flow information of goods, dan flow of money.

Menurut Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Sumatera Barat, Rifdial Zakir, pada umumnya bisnis logistik dan rantai pasok yang dijalankan oleh berbagai negara telah mengalami transformasi dengan melihat keadaan saat ini maupun praktek penyelenggaraan bisnis logistik global.

Karakteristik industri logistik kini cenderung bersifat integrasi dan kolaborasi, dimana peran negara-pun sangat dominan dan pasarnya merupakan awalnya tradisional market.

“Kemudian setelah kebijakan antar negara melalui berbagai bentuk diantaranya transparansi, dan privatisasi atas core marketnya, maka pasar industri maupun sejenis telah mengalami perkembangan yang sangat mendasar, dimana pasarnya bersifat hybrid market,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, dalam kaitan itu, faktor kecepatan, ketepatan yang didukung dengan teknologi telekomunikasi yang dilengkapi fasilitas track and trace menjadi kecenderungan dalam kehidupan masyarakat modern, yang bergerak dibidang logistik.

Pasar tersebut kemudian tumbuh dan berkembang menjadi commercial market (e-commercee dan e logsitics) dengan tingkat keterbukaan pasar yang tinggi dan peran government cenderung mejadi harmonisasi.

Hal ini, ujar Rifdial, dapat dilihat dari kecenderungan antara lain; perkembangan yang kuat kearah layanan logistik terpadu (integrated logistics), persaingan bisnis komunikasi dengan distribusi dan mobilitas barang/ fisik menuju tingkat nasional &internasional (connectivity), dan bisnis telekomunikasi cenderung terintegrasi maupun perusahaan jasa pengurusan transportasi/ freight forwarding dan logsitik dan stakeholedr logistik dalam tatanan logistik menjadi paralel dan menjadi tulang punggung layanan logistik nasional.

Ketua ALFI Sumatera Barat, Rifdial Zakir.

Karena itu, imbuhnya, dari sisi perkembangan logistik diperlukan upaya bersama memperkuat tatanan sumber daya manusia (SDM) dalam bidang freight forwarding, logistik dan rantai pasok untuk mencapai visi dan misi kolaborasi agar siap masuk industri logistik dan rantai pasok baik secara nasional maupun internasional.

Rifdial mengatakan, bisnis logistik merupakan lingkungan makro yang terdiri dari lingkungan ekonomi, teknologi, politik, regulasi nasional dan internasional, sosial budaya dan geografi/demografi yang mencakup bidang industri, perdagangan nasional & internasional, transportasi, perbankan, dan asuransi dalam upaya mobilitas pergerakan barang dari dan ke luar negeri (export/import) maupun perdagangan barang antar pulau.

Konsekuensi dari pelaksanaan aturan tersebut adalah terbukanya peluang yang makin luas bagi perusahaan termasuk bisnis sektor logistik.

Melalui kerjasama perusahaan perusahaan nasional dalam membangun ekosistem standard untuk bersaing, maka pasar jasa logistik di Indonesia akan menjadi peluang sekaligus berkembang.

“Disisi lain, para penyelenggara bisnis logistik harus bisa berkompetiai lebih fairnes demi kepuasan pelanggan, ketepatan waktu penyampaian barang serta keamanan yang merupakan faktorĀ  penting dalam menghadapi tantangan bisnis di era perdagangan bebas saat ini,” ujar Rifdial.[redaksi@logistiknews.id]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *